Kaskus Mendapat Kucuran Dana Segar Sebesar 1 Trilyun
Grup Djarum, melalui bendera Global Digital Prima Venture, menanamkan dana segar Rp 1 trilyun lebih ke forum online Kaskus. Meskipun terdengar asing, nama GDP bukanlah perusahaan ecek-ecek. Ia tak lain anak usaha Grup Djarum yang dipegang Martin Basuki Hartono, generasi ketiga keluarga pemilik Djarum. Martin adalah putra Robert Budi Hartono, pemilik Djarum yang menjadi orang terkaya di Indonesia versi teranyar Forbes.
Proses masuknya anak usaha Grup Djarum ke Kaskus itu sebenarnya tidak terlampau mulus. Menurut Ken Dean Lawadinata, CEO DMI (pemilik Kaskus), awal tahun lalu, Martin sudah mengutarakan minat. "Tapi pada waktu itu mentah," tuturnya. Pada medio Desember lalu, Martin balik dengan bendera Global Digital Prima. "Pada waktu dia masuk, kami sedang dalam proses dengan satu investor dari Cina," ujar Ken.
Kedatangan Martin kali ini disambut dengan karpet merah. Dalam waktu dua minggu, kata sepakat sudah didapat. "Awal tahun sudah teken persetujuan," tutur Ken.
Dari latar belakangnya, kelompok usaha Djarum sebenarnya tergolong baru di ranah bisnis online. Masuknya Djarum ke bisnis online dimulai pada tahun lalu, dengan mendirikan Global Digital Prima dan mengakuisisi sejumlah situs internet baru. Antara lain Krazymarket.com, Infokost.net, Dailysocial.net, Bolalob.com, dan Lintasberita.com. Kelimanya lalu dikelola dalam satu unit bisnis berlabel Merah Putih Incubator.
Melalui Kaskus, GDP dinilai ingin diakui sebagai pemain bisnis online. Kredibilitas di mata pemain bisnis online akan terdongkrak. Lalu, berapa besar investasi yang harus dikucurkan GDP? Ken menolak menjawab. Juga soal persentase saham Kaskus yang menjadi milik Grup Djarum. "Kami terikat perjanjian untuk tidak mengumumkan hal itu," katanya.
Namun, Ken menyatakan, munculnya beragam tafsiran nilai duit yang mengucur itu adalah hal yang lumrah. "Cuma, saya bisa kasih ancarannya. Kan, ada yang bilang Rp 1 trilyun atau Rp 1,5 trilyun. Terserah sih mau dianggapnya berapa," tuturnya. "Banyak memang yang menebak. Dan kami melihat, sudah ada beberapa yang tepat, meski saya tidak bisa menyebutkan," Ken menambahkan.
Berapa persisnya komitmen fulus dari DGP, tampaknya lumayan besar. Yang jelas, menurut Ken, dana yang cair sejak awal Januari lalu itu dapat dipakai untuk ekspansi selama tiga tahun ke depan. Kaskus berencana memakai dana segar GDP itu untuk pengembangan forum jual-beli (FJB) dan sistem pembayaran (payment system). Ken menilai, masa depan Kaskus terletak pada FJB dan payment system. "Rencananya kelar pertengahan tahun ini juga," katanya. Hingga kini, iklan masih menjadi andalan. Total, lebih dari US$ 1 juta per tahun.
Meskipun sejumlah pemain bisnis online masih menaruh optimisme tinggi, pengamat multimedia, Nukman Lutfthie, memberi analisis sebaliknya. "Setidaknya dua tahun dari sekarang, bisnis online akan mengalami kiamat yang kedua," katanya. Banyak yang menjamur, lalu banyak yang mati. "Yang survive tidak banyak," ia menambahkan.
Astaga.com, misalnya, kehilangan jutaan dolar, lalu hilang dan mati. Setelah kiamat pertama pada awal tahun 2000-an, bisnis online merangkak pelan. Baru pada 2009-2010 bermunculan pemain kecil yang kemudian membesar. Tapi, Nukman menambahkan, pemain besar seperti Djarum lebih aman memilih pemain atas sekalian. "Kaskus contohnya," kata Nukman.
Akankah aksi gelontoran dana besar dari anak usaha Grup Djarum ke Kaskus itu mampu menahan guncangan kiamat dunia online kedua? Waktu jualah yang menguji.
G.A. Guritno, Haris Firdaus, dan Andya Dhyaksa
[Laporan Utama, Gatra Nomor 21 Beredar Kamis, 31 Maret 2011]
Tags: Berita Unik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Berikan Komentarmu...
0 Tulis Komentar Untuk "Kaskus Mendapat Kucuran Dana Segar Sebesar 1 Trilyun"
Posting Komentar